Gagal Urus Anggaran Porprov, Mantan Waketum Kritik Keras Pengurus KONI Jambi : Apa Guna Ring 1, Melobi Anggaran ke ‘Bos Sendiri’ Tidak Tembus

Bagikan

JTIZEN.COM – Publik Jambi tengah disuguhi ironi dalam tata kelola olahraga daerah. Jajaran pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jambi yang selama ini kerap disebut-sebut sebagai ‘Ring 1’ Gubernur, justru dinilai gagal total melobi anggaran pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026.

Tokoh olahraga senior Jambi, Habib Ahmad Syukri Baraqbah, S.HI, melontarkan kritik keras bernuansa satire terhadap apa yang ia sebut sebagai “macan kertas” di tubuh induk organisasi olahraga tersebut.

“Ring satu atau Sekadar Pajangan?,” ujar pria yang akrab disapa Eki, 19 Desember 2025.

Habib Syukri mempertanyakan legitimasi label ‘orang dekat Gubernur’ yang selama ini melekat pada jajaran elit KONI Provinsi Jambi. Menurutnya, jika kedekatan itu benar-benar strategis, urusan anggaran Porprov seharusnya bukan persoalan besar.

“Lucu sekali, Katanya di sana berkumpul orang-orang ‘Ring 1’, orang-orang sakti di lingkaran kekuasaan. Tapi kok urusan anggaran Porprov saja tidak tembus?” sindirnya.

Ia menambahkan, pada momentum pemilihan Ketua KONI, tekanan dan lobi politik justru sangat masif hingga ke daerah-daerah. Namun ketika tanggung jawab nyata menyangkut nasib atlet dihadapkan, performa tersebut justru menghilang.

“Apakah kedekatan itu hanya dipakai untuk duduk di kursi empuk, tapi mendadak ‘amnesia lobi’ saat urusan nasib atlet? Dulu saat pemilihan Ketua KONI, tekanan politiknya luar biasa, lobinya sampai ke ujung Kabupaten. Sekarang saat disuruh kerja urus anggaran, kok jadi loyo seperti kerupuk kena air? Ini ironi,” tegas Habib Syukri.

Mantan Wakil Ketua Umum KONI Provinsi Jambi itu, juga menyoroti ketimpangan kebijakan anggaran di Provinsi Jambi. Di satu sisi, proyek-proyek infrastruktur multiyears terus mendapatkan tambahan dana tanpa hambatan. Di sisi lain, event olahraga paling bergengsi tingkat Provinsi justru terancam tertunda dengan dalih defisit anggaran.

“Proyek beton dan aspal dananya mengalir deras. Tapi untuk keringat atlet di Porprov, kerannya tiba-tiba mampet. Apa gunanya membangun stadion megah kalau kegiatannya saja tidak bisa digelar?Apakah kita sedang membangun museum beton untuk meratapi kematian prestasi olahraga?,” ketus Habib Eki dengan nada satir.

Dirinya bahkan menyebut pembangunan fasilitas olahraga tanpa agenda pembinaan yang jelas hanya akan melahirkan “museum beton” alih-alih prestasi.

Lebih jauh, Habib Syukri menegaskan bahwa persoalan ini tidak semata soal ketersediaan dana, melainkan lemahnya visi dan manajemen organisasi. Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, khususnya Pasal 33, yang mewajibkan pengelolaan olahraga dilakukan secara terencana, berkelanjutan, dan efektif.

“Kalau alasannya defisit, pertanyaannya kemana kemampuan lobi yang dulu kalian pamerkan saat berebut kursi? UU Keolahragaan itu mewajibkan pembinaan berkelanjutan. Menunda Porprov berarti melanggar janji negara kepada atlet. Ini bukan hanya gagal manajerial, tapi gagal nalar,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Habib Eki meminta para petinggi KONI Jambi melakukan refleksi mendalam. Menurutnya, jabatan strategis tidak cukup ditopang oleh kedekatan politik, melainkan harus dibuktikan dengan kemampuan mengeksekusi janji.

“Jangan sampai publik berpikir bahwa ‘Ring 1’ itu singkatan dari ‘Ring Satu Persen Kapasitas’. Rakyat Jambi tidak butuh pengurus yang hebat dalam lobi politik pemilihan, tapi memble dalam lobi prestasi. Jika urusan anggaran saja tidak tembus ke bos sendiri (Gubernur), lantas apa gunanya kalian ada di sana? Kembalikan marwah olahraga Jambi, atau silakan angkat kaki sebelum atlet kita benar-benar habis kesabaran dan hancurnya masa depan olahraga Jambi!” pungkas Habib Syukri.

Baca Juga